Batu Bolong di Pantai Poto Batu, Taliwang

Sumbawa Barat menyimpan buanyak keindahan alam yang belum semua travelers tau. Beberapa diantaranya ada di blog ini. 

Selain Pantai Maluk yang kece dengan pasir putih lembut dan air lautnya yang hijau toska, ada satu destinasi lagi yang gak kalah kece dengan Pantai Maluk. Sebut saja, Poto Batu.

Poto Batu terletak diantara Kota Taliwang dan Desa Labuan Lalar. Lebih tepatnya Poto Batu terletak di pinggir jalan raya, jalur Kota Taliwang menuju Jereweh dan Pantai Maluk. Hanya lima menit dari Kota Taliwang, kita sudah sampai di destinasi ini.

Gak ada tiket masuk ke pantai ini, bahkan parkir pun gak dipungut biaya, asyik kan ?. Disaat kami sudah berada di pinggiran pantai, saya melihat para pedagang sedang mendirikan tendanya untuk berjualan menjelang senja sampai malam hari. Pemandangan yang asyik.

Poto Batu merupakan sebuah pantai yang cukup unik. Ada sebuah batu besar yang ditengah-tengahnya ada lubang berdiameter tiga hingga empat meter yang menyerupai terowongan yang menembus hingga ke bibir pantai yang dipenuhi oleh batu-batu karang.

Oleh warga setempat dinamakan Pantai Poto Batu karena ada sebuah batu besar di salah satu sisi pantai. Poto Batu memiliki arti "Batu di ujung" maksudnya di ujung pantai ini terdapat sebuah batu besar yang menyerupai goa karena memiliki lubang di tengahnya. Lubang ini seperti terowongan yang menembus sisi bagian batu yang menghadap ke laut. Jika  penasaran dengan batu berlubang ini, Kamu harus mencoba untuk memasuki lubang yang lumayan besar untuk menuju bagian batu-batu karang.

Disamping keunikan dari batu ini, ada sisi lain yang cukup membuat sedih. Di salah satu bagian dinding batu ada coretan yang gak perlu, bahkan merusak keindahan dari pantai ini. Ayook, buat para pengunjung, jaga kebersihan dan keindahan pantai kita yaa !. Jangan melakukan vandalisme alias coret-coret di sembarang tempat !. Semoga saja sesudah tulisan ini saya posting, coretan di batu itu sudah dibersihkan oleh pengelola setempat.

Next... Keunikan lainnya dari pantai ini yaitu pasirnya yang berwarna kecokelatan seperti tanah. Setelah diperhatikan, Poto Batu merupakan muara yang mempertemukan aliran sungai-sungai yang mengalir dari Kota Taliwang. So.. Mungkin ini yang membuat warna pasir dari pantai ini berwarna cokelat karena bercampur dengan tanah. 

Cuaca di Pantai Poto Batu cukup cerah. Angin sore yang cukup kencang dan deburan ombak yang lumayan besar membuat pakaian yang saya kenakan setengah basah oleh ombak yang menabrak batu karang. Pemandangan dari pantai ini bisa dibilang kece. Kita bisa melihat para nelayan yang akan berangkat memancing dengan perahu layar yang sangat sederhana.

Perahu-perahu layar jaman sekarang sudah dilengkapi dengan mesin tempel. Beda seperti dulu yang hanya mengandalkan arah angin darat untuk menuju ke tengah lautan. Melihat Gili Puyung dari kejauhan, deretan perbukitan yang hijau dan paling penting, sinyal hp juga cukup kencang disini.

Aplagi jika berkunjung di bulan puasa, banyak para pengunjung yang datang kesini untuk ngabuburit menunggu waktu berbuka puasa dan menikmati sunset. Para pedagang kaki lima juga sudah bersiap-siap menjajakan dagangannya. Tenda-tenda pun dipasang di pinggir pantai.

Meskipun warna air pantainya gak seperti hijau toskanya air laut di Pantai Maluk, Pantai Poto Batu memiliki panorama alam yang cocok untuk menanti sunset. Sunset disini katanya indah lhoo. Tapi sayang kami berdua gak sampai menikmati sunset di pantai ini karena agenda selanjutnya mencari kuliner khas Sumbawa Barat sekalian nyari menu buka puasa. hehehe.











Share:

5 Permainan Rakyat yang Harus Kamu Saksikan Saat Traveling ke Sumbawa

Sumbawa tak hanya terkenal dengan alamnya yang masih alami dan asri. Sumbawa memiliki permainan-permainan tradisional yang sudah turun temurun dilakukan oleh masyarakat Sumbawa. Awalnya permainan-permainan rakyat ini di adakan untuk memeriahkan moment-moment tertentu dalam masyarakat misalnya moment mulainya musim tanam padi, momen menyambut musim kemarau, moment menunggumasa panen, hingga moment setelah panen. Masyarakat merayakan dengan permainan-permainan yang selanjutnya menjadi tradisi yang meiliki daya tarik karena keunikan dan keseruan serta nilai-nilai yang terkandung dalam permainan rakyat ini. Tentu saja di mata para wisatwan baik domestik maupun mancanegara ini adalah sesuatu yang unik dan segar yang harus disaksikan ketika berada di Sumbawa. 

Apa saja Permainan /Event rakyat di Sumbawa yang tak boleh dilewatkan begitu saja? Mari kita mulai.

1. Barapan Kebo
Secara bahasa Barapan Kebo artinya Karapan Kerbau. Sumbawa adalah salah satu daerah yang memiliki banyak padang sabana yang membuat hampir sebagian besar masyarakat Sumbawa di luar ibu kota kabupaten memiliki hewan ternak. Nah salah satu hewan ternak yang banyak dimiliki adalah Kerbau selain Kuda, Sapi, Kambing dan lainnya. Kerbau memiliki banyak manfaat, selain daging dan kulitnya kerbau juga diberi tugas special membantu masyarakat petani untuk membajak sawah. Jadi ektika musim tanam mulai tiba, si kerbau dapat tugas tambahan lagi yaitu bertanding di arena berlumpur Barapan Kebo. Sepasang kerbau pilihan dipilih untuk mengenakan Noga di bawah lehernya, Selanjutnya sang Joki akan berdiri di atas bagian Noga lainnya untuk menyemangati si kerbau agar berlari sekencang mungkin menuju Saka', sebuah pasak yang menjadi finish. Pemenangnya dalah kerbau yang tercepat dan tertepat menyentuh Saka'. Selain dapat hadiah, sang juara harus melakukan aksi Ngumang, semacam speech dalam bentuk Lawas yang berima dan biasanya isinya lelucon-lelucon segar yang tak jarang mengundak sorak sorai dan gelak tawa penonton.

Kamu harus melihat event Barapan Kebo ini jika ke Sumbawa. Atau mau coba naik ke Noga? boleeh banget!

Foto : @Randalpatisamba
Foto :  @Raditya.maulana

2. Main Jaran
Kalau barapan kebo dilakukan pada saat awal musim tanam, maka Main Jaran dulunya diadakan ketika musim mulai kemarau. Tapi sekarang diadakan tidak harus di musim kemarau karena event main jaran sudah masuk ke dalam event-event Pariwisata Sumbawa dan diSupport oleh banyak pihak termasuk pemerintah. Arena Main Jaran juga semakin tertata dengan baik dan rapi. Hanya saja pesan mimin buat kalian yang akan menonton Main jaran jangan lupa siapkan sunblock atau jaket karena cuaca biasanya panas menyengat. Pilih posisi duduk di tribun penonton yang nyaman dan siapkan kameramu. 

Uniknya lagi main Jaran di Sumbawa memakai Joki cilik, jokinya adalah anak-anak kecil usia 4 -7 tahun. Jangan salah mereka memiliki ketangguhan dan keberanian yang kita sendiri belum tentu punya. Lepas dari pro dan kontra joki cilik, Main Jaran adalah permainan yang seru untuk diikuti. 

Foto : marcinkilarski
Foto : @ers_ega

3. Barapan Ayam / Sampo Ayam
Konon permainan ini sudah ada sejak tahun 70an dan konon lagi permainan ini berawal dari sebuah desa di Kecamatan Utan yang bernama Desa Pukat. Sebuah desa yang pada zaman dahulu merupakan bagian dari lautan. Terbukti dengan ditemukannya Sebuah Jangkar Raksasa yang terbuat dari Kayu berumur ratusan Tahun dan hingga saat ini masih kokoh dan bisa dilihat di pelataran Masjid Desa Pukat.

Back to Barapan Ayam, Jadi semakin hari Barapan Ayam semakin dikenal dan menjadi Permainan atau event di hampir semua wilayah Sumbawa bagian tengah hingga barat. Bahkan saat ini lebih sering diadakan di Taliwang ibu Kota Kabupaten Sumbawa Barat dengan event yang meriah dan bertabur hadiah-hadiah yang menggoda. 

Barapan ayam teknisnya gini genks..
Dua Ekor ayam diikatkan pada Noga (ukuran kecil dong, bukan Noga buat kerbau ya bisa mati ayamnya) kemudian seorang joki (jokinya gak perlu naik ke Noga sih) menggiring ayam dengan alat penggiring yang terbuat dari daun lontar yang bentuk seperti sapu lidi. Ayam akan berlari kencang dan harus mengenai Saka'. Yang dinilai sama seperti Barapan Kebo, kecepatan dan ketetapan. Uniknya ayam-ayam yang ikut kompetisinya adalah pasangan-pasangan ayam pilihan dengan bulu dan postur yang kembar identik. Dan tahukah kalian harga ayam-ayam ini bisa sampai berjuta-juta lho. Jadi jika kamu sedang di Sumbawa atau berencana ke Sumbawa luangkan waktu untuk menonton permainan rakyat yang satu ini.

Foto : kusuma_wardhana_
Foto : @highbrowamrullah
4. Karaci
kalau di Lombok ada Perisaian maka di Sumbawa ada Karachi. Sekilas memang sama tetapi secara teknis dan properti sangat berbeda. Jika Perisaian menggunakan Pemukul berupa Rotan kecil yang cetarrr dengan perisai tipis, di sumbawa menggunakan pemukul yang lebih besar ukurannya dengan perisai yang lebih tebal dan besar disebut Mangkar. Kostum Karaci dibuat tebal agar peserta tidak terlalu kesakitan dan wasitnya memegang gala dari bambu untuk melerai. Karaci adalah pertarungan dua pria, biasanya diadakan dalam event-event terntu saja misalnya acara Kesultanan, Event pemerintah dan semacamnya. Permainan ini kalau menurut mimin tidak cocok untuk ditonton anak-anak di bawah umur. Cocok untuk yang menyukai permainan-permainan extreme dan menantang adrenalin.

Oh iya, jika pernah ke Sumbawa maka kalian akan mlihat monumen Karaci di lampu merah tak jauh dari terminal Sumer Payung Sumbawa. 

Foto : pulausumbawanews.net
5. Barempuk
Barempuk ini adalah permainan Rakyat yang diadakan untuk menyambut musim panen padi. Barempuk adalah semacam permainan pertarungan antara dua pria dewasa dengan properti senjata berupa Rise Straw alias Batang Padi alias Jerami. Mereka akan saling menumbangkan dan menggosokkan jerami ke tubuh lawan. Kebayang dong gimana sakit sekaligus gatalnya. Yang kalah jelas yang paling sedikit berhasil menyentuh lawan atau yang tumbang duluan. Permainan ini di adakan di areal persawahan yang baru selesai panen. Hmmm.. kebayang yanaroma segarnya jeraminya. Pasti seru!

Foto :  @mtma_sumbawa
Foto : www.inovasee.com

Nah itu dia 5 Permainan Rakyat yang harus Kamu saksikan saat traveling ke Sumbawa. Jangan sampai terlewatkan ya. Selamat mengeksplor Keindahan dan Keunikan Sumbawa ya.
Share:

10 Destinasi Instagramable di Pulau Sumbawa

Sumbawa semakin hari semakin menunjukan kecantikan dan keindahannya. Tentu saja tidak dengan sendirinya  melainkan karena mulai tumbuh dan muncul anak-anak muda kreatif yang mulai sadar wisata dan sadar bahwa menjaga alam dengan baik maka alam akan jauh lebih ramah pada kita. Walaupun tanpa butuh banyak di permak beberapa destinasi di Sumbawa memang sudah indah dari "sononya". Berkah dari Allah untuk Pulau Sumbawa. 

Belakangan ini mulai gampang menemukan foto-foto dan informasi berkaitan dengan pariwisata Pulau Sumbawa walaupun tak sebanyak informasi pulau seberang tetapi ini adalah kabar baik. Pariwisata Sumbawa mulai menggeliat dan dilirik wisatwan. Entah Domestik maupun Mancanegara. Mengingat Pariwisata Sumbawa masih tergolong wisata minat khusus jadi wajar masih belum terlalu banyak wisatawan yang bisa mengakses Sumbawa dengan cepat. Hanya orang-orang dengan niat dan tekad yang kuat yang bisa sampai Sumbawa dan merasakan menyatu dengan alamnya. Meski begitu sudah banyak pesohor ibu kota dan dunia yang berkunjung ke Sumbawa dan rata-rata Pulau Moyo menjadi tujuan utama mereka. Pulau Moyo memang sudah terkenal di seluruh dunia, bahkan sejak mendiang Lady Diana masih hidup. 

Sumbawa sekarang memiliki anak-anak muda yang kreatif berkat influence dari sosial media yang memudahkan siapa saja untuk mencari inspirasi bagaimana menata destinasi, bagaimana membuat destinasi yang instagramble yang di ukai people zaman now. Banyak anak muda yang bergerak dan menata destinasi yang ada di wilayahnya masing-masing. Sehingga menarik untuk dikunjungi dan bagus untuk difoto kemudian di unggah ke instagram dan social media lainnya

Berikut ini ada 10 Destinasi Instagramable di Pulau Sumbawa yang bisa kamu kunjungi untuk menambah keseruan di feed instagammu :

1. Pulau Moyo

Tidak berlebihan jika kita bilang Siapa yang tak kenal Pulau Moyo? Karena Pulau yang di dalamnya terdapat hutan yang menyimpan keindahan surgawi ini sudah tersohor kemana-mana. Pesohor dunia seperti Rain, Lady Diana, Mc Jagger dll pernah menikmati liburan mereka di pulau ini. Air Terjun Mata Jitu adalah alasan terbesar para wisatawan nekat melakukan perjalanan jauh menuju pulau ini. Terletak di desa Labu Aji Kecamatan Badas, Sumbawa pulau Moyo menjadi salah satu icon pariwisata Sumbawa. Setiap tahun pemerintah Sumbawa mengadakan Festival Pesona Moyo untuk menarik wisatawan. 

Jelas, pulau moyo memiliki tiap sudut yang instagramable banget. Air terjunnya, Aliran Mata airnya yang berwarna tosca bening, pemandangan pantai hingga bawah lautnya siap membuat feed instagram-mu menjadi lebih sedap untuk di-kepo-in.

Foto : @herjunotajie
Foto : @heriand 


2. Puncak Mantar

Terletak di Kec. Seteluk - Sumbawa Barat, Desa yang berada di ketinggian 660mdpl ini semakin ramai menghiasi jagat per-instagram-an Indonesia. Cobe deh cek tagar #DesaMantar #MantarVillage atau search location Puncak Mantar di Instagram, rame banget kan? Ya begitulah, desa yang dulunya tak "tersentuh" listrik, sinyal, dan pendatang ini sekarang sudah menjai primadona juga menjadi destinasi wajib didatangi kalau berkunjung ke Sumbawa. Pemandangan lembah Poto Tano dari puncak Mantar sungguh mengagumkan. Sejauh manta Memandang kita akan melihat kebesaraan Allah. Disebelah barat bertengger Rinjani yang perkasa menambah magis pemandangannya. Berfoto di Mantar itu wajiblah. Gile aja udah capek-capek mendaki tapi ga take a photo. Kamu belum kesini? Segera rencanakan!

Foto : @ksbexplorer 
Foto : @thoryq_akbar11


3. Sarae Nduha

Destinasi yang satu ini luar biasa pesonanya. Terletak di sekitar kaki Gunung Tambora dengan sabana yang luas. Bayangin bukit-bukit savana sambung menyambung di pinggir laut Teluk Saleh di sebelah utara nya kita bisa melihat Gunung Tambora dengan kabutnya. Spot-spot selfie dan tempat duduk cantik juga ada disini. Dijamin kalian akan betah di Sarae Nduha yang semain sore semakin romantis suasananya dan yang paling penting memori harus bawa double biar gak kehabisan. Terletak di Kabupaten Dompu, Sarae Nduha menjadi lokasi favorit untuk menikmati sunset dan sunrise.

Foto : little_foot19
Foto : dewi_adnyawati

4. Pulau Kenawa

Destinasi yang satu ini termasuk destinasi mainstream di Sumbawa Barat. Tapi yakin bakalan bosan?Mimin sendiri gak ada bosan-bosannya ke Pulau Kecil yang mendunia ini. Selalu terpanah setiap melihat padang rumput dan sekelilingnya yang menakjubkan. Banyak sudut yang bisa diexplore untuk memperbarui feed instagrammu. Udah pernah ke Pulau Kenawa?

Foto : @joshuafooo 
Foto : @heriand

5. Batu Dulang

Nah lokasi yang satu ini masih fresh! Sesegar udara di sekitar nya. Batu Dulang terletak di kecamatan Batulante, Sumbawa. Merupakan wilayah Sumbawa yang berhawa dingin karena berada di dataran tinggi Kabupaten Sumbawa. Kalau waktu mimin main ke Samongkat dan Batudulang dulu, belum ada spot cantik ini. Jalan juga belum bagus dulunya, sekarang kalian bisa datang dengan mudah karena akses sudah nyaman dan spot ini siap menghiasi instagram kalian. Jangan lupa check in Lokasinya di Batudulang ya genks, jangan lupa juga hastag #BatuDulang dan #JelajahSumbawa pastinya hehehe

Foto : @yasminewardhani
Foto : nugrohoopi1

7. Pantai Lariti

Belakangan ini viral berita tentang pantai yang air lautnya seperti terbelah, mengingatkan orang-orang pada kisah Nabi Musa yang membelah lautan dengan tongkatnya. Tapi Pantai Lariti ini bukan kisah semavam itu kok. Di Pantai ini ada pulau mungil tak jauh dari bibir pantai yang untuk bisa kesana harus menunggu air surut dulu. Nah ketika air surut muncullah daratan berupa pasir timbul yang seolah membelah air lautke kiri dan ke kanan. Telrihat sangat alami dan tentu saja cantik! Kamu harus datang kesini karena destinasi yang terletak di Desa Soro Kecamatan Lambu Sape - Bima ini untuk menambah koleksi foto destinasi ciamik di feed instagram mu.

Foto : @topengkusu

Foto : @topengkusu


8. Gili Bedis Island

Banyak yang mneyebut pulau ini Raja Ampat mini. Iya juga sih, pulau kecil yang di kelilingi pulau-pulau kecil dan besar lainnya membuat kita teringat Raja Ampat di Papua. Berfoto dengan background pulau-pulau kecil lainnya menjadi hal yang wajib di pulau ini. Pulau ini belum ramai di kunjungi orang jadi bisa dipastikan jika kamu mengapload gambarnya bakalan banyak komentar; ini dimana? dan pertanyaan semacamnya. Oh iya, Gili Bedis terletak di Poto Tano Sumbawa, bisa diakases melalui Desa Poto Tano (tempat penyeberangan ke Gili Paserang dan Kenawa) atau dari desa Sepakek dengan menyewa perahu nelayan. Mimin pilih opsi yang kedua lebih murah meski perahu kecil hahaha

Foto : @yulian_baz
Foto : herjunotajie


9. Uma Lengge

Nah ini langkah nih destinasi seperti ini di Nusa Tenggara Barat tercinta. Uma Lengge adalah sebuah komplek Lumbung Padi masyarakat Wawo yang unik karena sudah ada sejak zaman leluhur mereka masih ada. Mengapa harus di buat disebuah komplek sendiri? dan tidak di dekat rumah? Nah ini alasannya agar supaya ketika bencana terjadi seperti kebakaran dan lain-lain makanan pokok masyarakat tetap aman. Coba deh fotoan seperti foto yang satu ini. Keren ya! atau kamu punya gaya lain? Tag ke @JelajahSumbawa ya

Foto : @heriand
Foto : harun_alryd


10. Air Terjun Kalela 
Salah satu air terjun terhits di belantara instagram Lombok Sumbawa. Air terjun ini hampir mirip Air terjun Mata Jitu. Debit airnya tergantung musim, tapi keindahannya gak kenal musim. Nah kamu bisa jadi bagian dari cantiknya, coba deh ambil foto sini, suasana adem dan jungle-nya dapat banget. Kalau mau kesini kamu bisa datang ke Desa Jereweh - Sumbawa Barat. Jalan kaki cuma 30 menit kok. Yuk ke Air Terjun Kalela.

Foto : @muthiadespi
Foto : @farhansyadli
Sesungguhnya destinasi-destinasi keren di Sumbawa masih banyak yang belum te-rexplore. Untuk mengetahui destinasi keren lainnya silahkan follow Instagram @JelajahSumbawa  
Share:

Pacoa Jara dan Joki Cilik dari Bima

Jangan bayangkan stadion pacuan kuda yang mewah dan pengamanan lengkap pada joki. Di sini pagar pemisah penonton dan lintasan hanya terbuat dari bambu sederhana. Riuh suara penonton meneriaki nama kuda jagoan mereka, beradu dengan derap kaki kuda, dan suara panitia dari pengeras suara. Podium penonton pun terbuat dari kayu. Joki kuda berumur kurang dari 11 tahun, dan yang paling mencengangkan kuda ditunggangi tanpa pelana. Rasakan adrenalin mengalir selama menyaksikan pacoa jara (pacuan kuda) tradisional Sumbawa. Selamat datang di Stadion Lembah Kara Dompu.

Ketika engunjunjungi stadion ini sedang berlangsung semi final Pacoa Jara untuk memperingati HUT TNI. Di Dompu Pacoa jara diadakan empat kali dalam setahun, yaitu pada HUT Bhayangkari (polisi), Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, HUT TNI dan Hari Ulang Tahun Dompu. Setiap kejuaraan diadakan oleh Pemerintah Daerah Dompu, bekerja sama dengan Porbasi. Selain di Dompu, pacoa jara juga mengambil tempat di Bima, Sumbawa dan Lombok. Setiap perlombaan dihadiri oleh kuda kuda terbaik dari seluruh Sumbawa dan Lombok. Kali ini kejuaraan berlangsung sepuluh hari. Peserta mencapai 700 tim, terbagi dalam 18 seri berdasarkan usia dan tinggi kuda. Dengan uang pendaftaran Rp. 200.000 mereka memperebutkan sapi untuk setiap juara seri dan tentu saja kebanggaan.


Joki cilik mulai berlatih sejak usia empat tahun dan ketika berumur sekitar tujuh tahun sudah pensiun. Joki tidak memiliki kuda tunggangan sendiri, mereka dibayar sekitar Rp. 35.000 sampai Rp. 50.000 oleh pemilik kuda untuk satu kali putaran dan tentu bonus jika menang. Dengan pengamanan yang minim, resiko yang ditanggung joki tidak sedikit. Banyak joki yang terjatuh dari kuda sampai patah tangan atau kaki, tapi kebanyakan hanya lecet. Diobati secara tradisional dan sudah bisa kembali berlaga keesokan harinya. Saya sempat berbincang sejenak dengan mantan joki bernama Yono berusia sepuluh tahun. Dia mengatakan pernah memenangkan sepeda motor, tapi belum bisa mengendarainya.

Sayangnya, ketika saya bertanya kepada Bapak Afit, (si pemilik kuda), apa ada joki cilik yang ketika dewasa direkrut oleh Porbasi untuk menjadi atlet profesional, beliau menjawab "Belum ada". Sungguh disayangkan, karena potensi yang dimiliki joki-joki cilik di Sumbawa sangat besar. Saya juga bertanya apakah joki cilik ini bersekolah. Beliau menjawab, jika sedang kejuaraan seperti ini, mereka membolos.

Pacoa jara dengan joki cilik telah menjadi hiburan rakyat, tradisi dan daya tarik pariwisata di Sumbawa. (YF/JS)



Share:

Uma Lengge dan Jompa, Bentuk Kearifan Lokal Masyarakat Wawo - Bima

Lengge
Padi bagi masyarakat petani adalah harta mereka yang berharga. Mereka akan menyimpan padi dengan perlakuan khusus dan tempat khusus. Masyarakat Wawo di Desa Maria, 15 km dari ibu kota kabupaten Bima, mempunyai tempat penyimpanan padi yang diberinama Lengge. Bentuknya panggung terbuat dari kayu beratapkan ilalang atau rumbia berbentuk kerucut. Terdiri atas 2 tingkat. 

Tingkat paling atas merupakan tempat penyimpanan padi dan tingkat kedua berbentuk bale-bale yang berfungsi sebagai tempat bersantai. Bangunan Lengge sama sekali tidak menggunakan paku. Mengandalkan presisi bagian per bagian dan pasak kayu kecil segi empat. Empat tiang utamanya dialas oleh batu pipih dan antara tingkat disangga oleh empat kayu balok melintang dengan papan pipih diantaranya. 

Bentuk bangunan seperti itu bukan tanpa arti atau sekedar estetika semata. Alas batu pipih dan papan pipih di penyangga tingkat berfungsi untuk menghambat tikus naik ke tingkat paling atas, tempat penyimpanan padi. Terbukti, padi yang disimpan di Lengge bisa tahan lama tanpa dimakan oleh hama tikus. 

Seiring perkembangan jaman, rumbia dan ilalang semakin susah ditemui dan dirasa mulai kurang kuat, Lengge akhirnya di-modernisasi menjadi Jompa. Bentuk dari Jompa hampir sama dengan Lengge. Hanya beda pada atap yang digunakan, yaitu genteng atau atap seng. Ketika kami berkunjung ke sana, ada beberapa Lengge yang sedang diperbaiki dan ada beberapa Jompa yang sedang dibangun atau sekedar diperbaiki

Jompa
Lengge dan Jompa ini diletakan dalam satu komplek bangunan. Tujuannya jika terjadi kebakaran atau musibah di rumah masyarakat, maka mereka tidak akan kehilangan persediaan pangan. Komplek Lengge dan Jompa dijaga oleh satu orang penjaga dan batu Pamali. Jika ada yang mencuri padi di dalam Lengge atau Jompa, maka sang maling tidak akan bisa keluar dari komplek Lengge dan Jompa ini. 

Banyak kearifan yang tersirat dari Lengge dan Jompa. Masyarakat diajarkan untuk menabung, hidup sederhana dan tidak serakah. Sistem penjagaan yang cenderung lebih mengutamakan saling kepercayaan antar masyarakat mengajarkan bahwa kita harus saling menjaga satu sama lain. Kearifan seperti ini yang makin lama makin pudar di masyarakat Indonesia kebanyakan. Lengge dan Jompa harus dilestarikan agar kita selalu diingatkan bahwa hidup harus saling menjaga, saling percaya, sederhana, dan berpikir jauh ke depan. (YF/js)  

Share:

Unru, Pahlawan Dari Sapugara

Unru adalah seorang pejuang dari Taliwang, Sumbawa Bagian Barat. Daerah yang kini dikenal dengan nama Kabupaten Sumbawa Barat, dengan ibukota di Taliwang.

Tahun 1902, tentara Belanda menginjakkan kakinya di Tanah Sumbawa dengan tujuan menjajah dan masuk melalui salah satu pantai yang ada di Taliwang, yaitu Pantai Balat,  Unru menggerakkan rakyat Taliwang untuk berperang melawan Belanda. Sikap Unru bertentangan dengan kehendak Raja Sumbawa, Sultan Muhammad Kaharuddin III, yang memimpin Kesultanan Sumbawa.

Sultan Sumbawa meminta Unru -- yang saat itu menjabat Enti Desa Taliwang (setingkat Camat) -- agar menerima kedatangan tentara Belanda baik-baik. Alasannya, dari segi jumlah, tentara Belanda sangat banyak dibandingkan jumlah rakyat yang dipimpin Unru. Persenjataan yang dimiliki Belanda pun lebih lengkap dari sekedar parang dan tombak yang dimiliki laskar Unru.

Atas dasar ini, Raja Sumbawa sangat khawatir dampak yang ditinggalkan akibat perang. Akan menyesengsarakan rakyat Sumbawa, khususnya rakyat Taliwang.

Tapi Unru tetap tidak peduli. Baginya, melawan kehadiran Belanda di Sumbawa, apalagi masuk melalui pantai yang ada di Taliwang adalah harga mati untuk ditentang.


Yang terjadi kemudian bisa ditebak : Unru dan rakyat Taliwang berperang melawan Belanda. Perang ini dikenal dengan sebutan “Perang Sapugara”, karena pusat pertempuran berada di desa Sapugara, sebuah desa yang berada di salah satu wilayah Taliwang dan tempat Unru dan keluarganya menetap. Walaupun pada akhirnya Desa Sapugara ketika itu akhirnya hangus terbakar oleh pasukan tentara Belanda yang berhasil menerobos masuk.

Pasukan Unru bahkan berhasil dilumpuhkan tentara Belanda yang semakin hari semakin bertambah jumlahnya karena terus berdatangan dari Lombok. Tentara Belanda mengepung Bangkat Monte, tempat pertempuran terakhir selama berhari-hari. Laskar Unru tak berdaya seiring habisnya persediaan makanan.

Jelas cerita perjuangan Unru ini bukanlah cerita dongeng dongeng belaka. Pada 1906 itu pula Unru dan semua rakyat yang mengikuti perjuangannya ditangkap.  Unru dan keluarganya dibuang ke Makassar. Enam bulan berselang, Unru dan keluarganya diungsikan ke Cirebon, Jawa Barat.

Unru meninggal dunia di Cirebon pada 1927 dan dimakamkan di Cirebon. Tempat pemakamannya itu bernama Pemakaman Kosambi Cirebon. Di batu nisannya, tidak menyebut nama Unru, melainkan “Tuan Pangeran” dari Sumbawa, karena rasa hormat Raja Cirebon kepada Unru.

Tulisan ini adalah tulisan dari Bapak Adi Pranajaya yang pernah membuat film tentang kisah heroik perlawan Unru pada tentara Belanda di Desa Sapugara - Sumbawa Barat.

Menemukan Makam Unru di Cirebon



Share:

Bermalam di Pondok Pemburu di Lereng Tambora

Hujan turun mengguyur pemukiman transmigrasi SP (Satuan Pemukiman) 4, Kawinda Toi, Kabupaten Bima. Jam menunjukkan pukul 1.00 siang, mobil kami berkeliling menuju gerbang pendakian Tambora Kawinda Toi untuk menjemput rombongan Bu Fadlun yang kemarin (Sabtu) mendaki. Suasana pemukiman transmigrasi amatlah sepi, hanya terlihat beberapa orang yang sedang duduk depan rumah mereka. Di tengah-tengah pemukiman terdapat satu Sekolah Dasar (SD) Sorilaju, berhubung masih liburan sekolah tampak sepi.
Juga itu hari Minggu (9/7/2017) sehingga banyak warga pergi ke kota Dompu atau Cabang Banggo untuk berbelanja, makanya tampak sepi. Tengah perjalanan menuju gerbang pendakian, segerombolan babi hutan lewat depan kami, begitu banyak layaknya kawanan kambing piaraan warga, sudah tidak takut lagi akan sesuatu yang asing, kata kami. Saya dan satu orang supir kebetulan kakak saya, mobil terus melaju mengikuti tanda  yang di buat menuju gerbang pendakian. Bukan hanya sekali ini saya datang ke kawinda Toi, ini yang ke empat kalinya setelah kemarin sebelum Ramadhan saya membagikan Wakaf Al-Qur`an dari Gerak Bareng Community di Masjid Kawinda To`i.
Hujan agak reda sejenak kami berbaring diatas mobil, kemudian seorang anak kecil mendekati mobil dan dibalik kaca dia melihat kedalam mobil, sontak saya kaget dibuatnya, lalu saya turun dari mobil  menanyakan asal anak tersebut? Ternyata rumahnya beberapa meter dari tempat kami memarkirkan mobil, karena rumahnya tertutup oleh rerimbunan pepohon jambu mente oleh sebab itu tidak kelihatan.
Awal anak pertama Aba Fi bersama anjing pemburu piaraannya.
Bau tanah sehabis hujan sangat menyejukkan ditambah udara sejuk yang datang dari atas pegunungan Tambora, “Namamu sapa dek?” Tanya saya pada anak tersebut, “Jum nama saya aba” kata dia. Aba dalam tradisi bima disebutkan untuk orang-orang yang lebih dewasa, “datang apa aba kesini?” Tanya si Jum, lalu saya menjelaskan kepada dia, kemarin hari Sabtu ada rombongan teman saya untuk mendaki Tambora melewati jalur kawinda To`i, hari ini kami datang menjemputnya, jelas saya kepada Jum. “oh iya kemarin (Sabtu) saya lihat ada rombongan di pos air terjun,” jawab Jum.
Selang beberapa detik hujan turun kembali mengguyur pemukiman transmigrasi sangat deras, kemudian si Jum mengajak saya untuk berteduh kedalam pondoknya yang sederhana. Dengan tergesa-gesa menghindari hujan saya masuk kedalam pondok Jum, alangkah kagetnya ketika disamping pintu ada sesosok seorang anak kecil yang lagi yang berdiri sebelah pintu. Ternyata dia adalah adiknya si Jum, namanya Dian, dengan gesitnya si Dian mengambil tikar dan mempersilakan saya untuk duduk, saya lebih memilih berdiri saja karena begitu mengasyikkan menikmati hujan turun dalam kesunyian pelosok Tambora. Kakak saya Farid, dia meilih berteduh di dalam mobil.
“Orang tua kalian kemana?” Tanya saya kepada si Jum. “Ama sama kakak saya pergi mengambil anjing di transmigrasi SP3, dan Ina lagi duduk di rumah tetangga sebelah sekolah” jawab si Jum, Ama adalah panggilan untuk seorang bapak sedangkan Ina panggilan untuk Ibu dalam tradisi Bima. Agak heran saya mendengar jawaban tersebut, karena penasaran saya menanyakan lagi untuk apa anjing itu, dalam benak saya mengira untuk menjaga rumah atau lahan kebun jambu mente, karena seperti yang saya ketahui bahwa biasanya orang Bima memelihara anjing untuk menjaga kebun mereka. Agak kaget mendengar penjelasan darinya, bahwa anjing tersebut digunakan untuk ‘Nggalo’ kata si Jum.
Nggalo adalah tradisi lama Suku Mbojo (Bima) untuk berburu rusa. Nggalo sendiri artinya berburu, hewan yang biasa diburu adalah Rusa atau biasa disebut ‘Maju’ oleh orang Bima. Namun tradisi ini sudah mulai hilang, ada beberapa faktor yang menurut saya kenapa Nggalo sudah agak jarang dilakukan  pertama karena pelarangan untuk berburu rusa oleh pihak yang bersangkutan dan kedua adalah masyarakat Bima yang sekarang lebih meilih bertani jagung atau bawang yang dinilai lebih banyak keuntungannya.
Jum memegang tanduk rusa istimewa dari koleksi miliknya.
“biasa bisa dapat berapa ekor jika Nggalo Maju”, Tanya saya pada si Jum. Kemudian Jum bercerita biasanya ketika Ama pergi Nggalo bisa dapat 20 hingga 30 ekor rusa dalam satu minggu, kaget mendengar ceritanya. Jum juga sering ikut berburu jika liburan sekolah katanya diatas gunung bisa satu minggu dan lebih untuk menunggu tangkapan, yang lebih membuat saya kaget dan semakin menarik mendengar cerita Jum yaitu metode perburuan yang mereka pakai adalah dengan cara lama menggunakan ‘Sarente’ yaitu sebuah perangkap. Orang Bima dahulu menggunakan Sarente yang terbuat dari tali berasal dari kulit pohon kemudian Sarente dipasang dalam hutan dan tinggal menunggu rusa yang masuk perangkap. Namun Nggalo tidak menggunakan senapan hanya menggunakan anjing untuk menggiring rusa menuju perangkap yang sudah dipasang, jelas Jum kepada saya. Mereka berdua, Dian sekarang duduk dibangku kelas 2 SD Sorilaju sedangkan Jum duduk dibangku kelas 3 pada SD yang sama.
Tanduk rusa, ujungnya berwarna kuning.
Sarente yang terbuat dari kawat.
Kemudian Jum menuju kamar untuk mengambil tanduk rusa koleksinya. Katanya tanduk koleksinya tersebut adalah tanduk terbaik dari berbagai tanduk rusa yang pernah mereka tangkap. Tanduk tersebut berwarna kuning ujungnya, tidak seperti tanduk rusa lainnya yang berwarna coklat tua. Tak terasa jam tangan saya sudah menunjukkan pukul 3.00 sore, namun rombongan belum juga turun kemungkinan mereka camping lagi semalam akibat hujan, pikir kami.
Dari jauh sebelah utara terlihat sepeda motor mendekati kami, “Ama sudah datang dengan kakak saya”, pinta si Jum. ternyata benar itu adalah Ama si Jum dengan motor bebek dan depannya terletak karung yang berisi anjing. Kami berkenalan dengan Ama si Jum, namanya adalah Taufik biasa orang memanggilnya Aba Fi, kemudian beliau pamit untuk mengikat anjingnya kebelakang lalu suara anjing menggonggong begitu banyak terdengar dari belakang, ternyata ketika hujan mereka tidak kelihatan dan terdengar kami juga kaget ketika beberapa anjing datang menghampiri Aba Fi.
Kemudian Aba Fi mempersilakan kami duduk di bale-bale depan rumahnya dibawah pohon jambu mente, setelah kami menjelaskan tujuan kami singgah di rumahnya, Aba Fi lalu memperkirakan rombongan akan turun besok antara jam 3 atau 4 sore, katanya. Selang beberapa detik istri Aba Fi datang di gonceng oleh anak pertamanya bernama Awal, lalu Aba Fi menyuruh istrinya untuk membuatkan kopi, suasana begitu hangat akan keramahan keluarga Pak Taufik (Aba Fi).
Hari sudah mulai gelap di lereng Tambora terdengar gonggongan anjing peliharaan Aba Fi dibelakang rumah seakan memperingatkan sesuatu, tiba-tiba suara rintik hujan terdengar dan selang beberapa detik hujan kembali turun dengan derasnya. Lalu Aba Fi mempersilakan kami untuk masuk kedalam rumahnya, tikar dan karpet digelar oleh istrinya, kemudian tiga gelas kopi di hidangkan. “Ayo silakan diminum ini kopi buatan sendiri”, kata istrinya.
Pak Taufik atau biasa di sapa Aba Fi dan istrinya Ibu Hana.
Aroma kopi begitu menggoda di tambah di luar hujan menjadikan obrolan kami begitu asik dan lupa akan kabar rombongan, dengan di sinari oleh lampu handphone sebab di Kawinda Toi listrik belum masuk dan juga sinyal hp, katanya aka ada sinyal hp kedepannya oleh salah satu perusahaan. Namun tidak menjadi masalah dikala obrolan semakin mengasyikkan. “Dahulu jalur itu, berawal dari kami”, kata Aba Fi sambil meminum kopi dan membakar satu batang rokok miliknya. Jalur pendakian Kawinda Toi memang dikenal dengan jalur pemburu karena awal pertama kali para pemburu yang membukanya, sekitaran tahun 2008 oleh para pecinta alam Bima mencoba menapaki jalur tersebut, cerita Aba Fi.
Biasanya untuk mengambil jalur ini harus saat waktu subuh, supaya nanti jam 12 siang sampai di pos 3, dari pos 3 bisa camping dulu untuk istirahat, lalu besok subuh lagi baru menuju puncak, jelas Aba Fi. Berbagai kisah mistis kerap menghiasi gunung Tambora, pengalaman mistis seperti yang dialami Aba Fi. Ketika itu mereka (pemburu) mendengar berbagai macam suara berisik layaknya suasana perkotaan, namun itu hanya terdengar jika melewati salah satu jalur khusus yang sangat jarang orang ketahui, kisah Aba Fi sambil menghisap rokok di tangan kirinya.
Aba Fi dan istrinya menceritakan berbagai pengalaman mereka tinggal di Transmigrasi SP 4.
Sambil minum kopi dan kudapan biskuit menemani kami sambil mendengarkan cerita perburuan Aba Fi.
Jika pergi berburu rusa ratusan perangkap (Sarente) yang sudah terbuat dari kawat kabel yang dibelinya seharga dua jatu, di panggul oleh dua orang, anaknya Jum turut serta dibawanya untuk berburu. Biasanya jika pergi Nggalo lamanya bisa sampai satu minggu hingga dua minggu, kadang juga bisa mencapai satu bulan tergantung rusa yang masuk perangkap. Sarente biasanya dipasang waktu sore, tingginya diperkirakan sesuai dengan tinggi leher rusa dewasa, kisah Aba Fi.
Rusa yang didapat bisa mencapai 20 ekor kadang jika musim berburunya baik kadang mendapatkan 30 ekor, juga Nggalo tergantung kelincahan dari anjing yang peka melacak jejak rusa, biasanya anjing yang dibawa sejumlah 6 ekor kadang lebih, tergantung jumlah pemburu yang turut serta ikut. Ketika malam mereka tidur di atas Ngguwu (pondok kecil) yang sudah dibangun oleh para pemburu, tinggal di tutupi dengan terpal. Jum sangat suka ketika berada diatas sana, memasak hingga mengambil air jalurnya sudah dia hafal semuanya, kata Aba Fi sambil mengusap kepala Jum.
Sejak kecil Aba Fi sudah diajarkan berburu oleh orang tuanya dan sekarang ilmu berburu juga akan dia ajarkan kepada ketiga anak laki-lakinya yaitu Awal (pertama), Jum (kedua), Dian (ketiga) dan Wati anak perempuan satu-satunya dan yang paling bungsu. Istri Aba Fi bernama Hanah mereka berdua berasal dari desa Manggelewa Dompu, dan menetap di transmigrasi SP4, kawinda Toi, Bima. mereka datang sejak tahun 2004 setelah menikah, semua anaknya dilahirkan dipondok kecil sederhana mereka. Juga pernah istrinya melahirkan sendirian anak ketiganya (dian) ketika Aba Fi pergi ke kota, cerita Ibu Hana.
Tidak terasa malam semakin larut udara dingin lereng Tambora mulai menyelimuti kawasan SP4, dan Awal sudah datang dengan AKI untuk memasang lampu. Ketika Ibu Hana ingin memasakkan makan malam buat kami berdua, dengan sopan kami menolak karena tadi sore sudah makan di pondok Konservasi Taman Nasional Tambora, pinta kami. Jam tangan sudah menunjukkan pukul 10 malam, Aba Fi menawarkan tempat tidur dalam pondoknya namun kami memilih untuk tidur dalam mobil karena takut merepotkan. Kebetulan di luar bulan sangat terang, dibawah pohon jambu mente kami memarkirkan mobil dan langsung tidur berhubung badan juga kecapean.
Gonggongan anjing membangunkan kami pada pagi buta di tambah suara Jum dan Dian yang bermain dengan ayam mereka. Di ufuk timur terlihat sang fajar sudah memerah kamipun bangun untuk menikmati suasana pagi di SP4. Dari depan halaman rumah Aba Fi sebelah selatan terlihat jelas puncak kawah Tambora tanpa ditutupi awan, sangat indah ketika matahari menyinari puncaknya.
Lalu Aba Fi keluar menghampiri kami kemudian dia menjelaskan jalur pendakian di jalur pemburu sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah gunung Tambora. Kemudian di depan rumahnya Ibu  Hana memanggil kami untuk sarapan, sangat istimewa bagi kami bisa sarapan di rumah Aba Fi apalagi di bawah rimbunnya pohon jambu di atas bale-bale depan rumahnya.
Pagi hari gunung Tambora tampak cerah tanpa awan yang mengitari.
foto bersama dengan latar gunung Tambora, kakak saya (Farid), Aba Fi, Dian, Wati, Saya dan Jum.
Jum bertugas memberikan makanan pada anjing pemburu mereka pagi hari.
Jam di tangan sudah menunjukkan pukul 10 dan sudah tanggal 10 (Juli/2017), rombongan Bu Fadlun belum juga nongol, agak was-was takutnya mereka kesasar. Kemudian si Jum mengajak saya ke air terjun, dari pondok Aba Fi jaraknya sekitar 800 meter berjalan kaki, saya di suguhi motor namun saya lebih memilih berjalan kaki hitung-hitung untuk olah raga. Bersama Jum, Dian, dan Wati setelah berjalan lama akhirnya kami sampai juga di tujuan, memang sangat luar biasa indahnya air terjun di tambah airnya yang sangat jernih dan bersih, kicauan burung berirama dengan desiran sungai. Inilah tempat impian untuk berlibur sahut saya dalam hati, setelah berlama di air terjun kamipun kembali ke pondok.
Jam tangan sudah menunjukkan pukul 12.00 siang rombongan Bu Fadlun belum juga tiba, lalu Aba Fi menyuruh Awal untuk pergi ke Pos 1 untuk menunggu rombongan. Saya beristirahat sambil berbaring, satu jam kemudian tiba-tiba datang Awal mengabarkan bahwa mereka sudah turun, sangat bersyukur akhirnya mereka sampai juga pada pukul 2.00 siang seperti yang diperkirakan oleh Aba Fi. Setelah semua barang dan rombongan sudah naik ke atas mobil, kamipun pamit kepada Aba Fi dan keluarganya, keramahan serta kisah perburuannya akan selalu dikenang. (Note & Photo by fahrurizki)

Jum menggendong adiknya Wati ketika turun menuju air terjun.
Air terjun pos 1 kawinda Toi dan masih ada 6 terjun lainnya di jalur ini.
Kembali menuju pondok Aba Fi dari air terjun pos 1.

Share: