Pasaji Ponan : Bentuk Syukur, Merawat Tradisi

Baca Juga

Adat istidat serta budaya tak dapat dipisahkan dari suku-suku yang ada di Indonesia. Berbagai macam suku bangsa yang ada tidak bisa lepas dari budaya dan ritual adat yang dilakukan di setiap daerahnya. Adalah “Tradisi Ponan”, salah satu tradisi masyarakat yang dilaksanakan di salah satu kecamatan di Kabupaten Sumbawa, NTB tepatnya di Kecamatan Moyo Hlir.

Tradisi Ponan ini dilakukan pada saat padi akan berbuah (bunting). Pelaksanaan Ponan ini dari segi waktu tidak berubah, akan tetapi tidak juga pada tanggal yang sama di setiap tahunnya. Seperti pengalaman tahun sebelumnya Ponan ini dilaksanakan pada bulan Maret. Jadi dengan melihat kondisi dari padi itu sendiri dan awal masa tanam. Masyarakat dari tiga desa/dusun ini menunjukkan rasa syukur dengan mengadakan Ponan, yang dulu disebut “sedekah adat ponan”.

Masyarakat dari tiga desa/dusun tersebut adalah Dusun Poto, Dusun Lengas dan Dusun Malili yang secara bergiliran setiap tahun menjadi tuan rumah pelaksanaan Tradisi Ponan ini. Pelaksanaan adat ponan ini disambut meriah oleh masyarakat dengan berbagai macam kegiatan kesenian dan budaya serta membuat berbagai macam jajanan khas Sumbawa.

Tahun 2018 ini, Ponan jatuh pada hari minggu (11/02) dengan Desa Poto sebagai tuan rumah pelaksanaan Ponan, dengan tema “Festival Pasaji Ponan”. Pelaksanaan Pasaji Ponan ini dilaksanakan di sebuah tempat yang dikelilingi oleh sawah dari masyarakat itu sendiri (Orong Rea).

Wakil Bupati Drs. H. Mahmud Abdullah yang hadir dalam kegiatan ini, dalam sambutannya, mengatakan bahwa, tradisi ponan ini adalah bentuk rasa syukur masyarakat dengan berhasilnya panen pada tahun yang telah lalu dan berdoa agar panen tahun ini mendapatkan hasil yang baik pula.

Tradisi Ponan yang awalnya dilaksanakan dengan memanjatkan doa dan zikir. Namun dengan seiring berjalannya waktu, tradisi ponan telah menjadi salah satu event pariwisata. Wakil Bupati juga mengharapkan kepada Dinas terkait dalam hal ini Dinas Pariwisata agar event Pasaji Ponan ini dijadikan event tahunan dan masuk dalam COE Kabupaten, Provinsi bahkan Nasional.

Selain itu, Wakil Bupati yang akrab dengan sapaan Pak Mo’ ini mengharapakan agar dinas terkait melakukan penataan lokasi pelaksanaan Ponan ini. Hal ini dilatarbelakangi karena membludaknya pengunjung yang tidak hanya berasal dari 3 (tiga) desa/dusun, akan tetapi berasal dari luar kecamatan dan juga wisatawan asing untuk menyaksikan secara langsung kegiatan Pasaji Ponan ini.

Ada hal menarik dari Tradisi Pasaji Ponan ini, yaitu pada saat disajikannya penganan/jajanan khas, pengunjung yang hadir berebut untuk mendapatkan sajian dari dulang/baki sebagai tempat sajian tersebut. Ada rasa puas yang dirasakan oleh masyarakat yang hadir dalam Tradisi Pasaji Ponan ini serta makna yang tersirat adalah adanya rasa syukur dan kebersamaan yang terjalin agar dapat dipertahankan sebagai identitas Tau dan Tana Samawa. (GenpiLS)





Share:
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Book Your Holiday Here